Senin, 15 Agustus 2016

TEKNIK BEKERJA DI LABORATORIUM KIMIA

  • Penanganan terhadap bahan kimia :
a)      Menghindari kontak langsung dengan bahan kimia
b)      Menghindari untuk mencium langsung uap bahan kimia
c)      Menggunakan sarung tangan
  • Jika ingin memindahkan bahan kimia :
a)      Membaca label bahan kimia (minimal 2 kali)
b)      Memindahkan sesuai dengan jumlah yang diperlukan
c)      Tidak menggunakan secara berlebihan
d)     Jika ada sisa, jangan mengembalikan bahan kimia ke dalam botol semula
untuk mencegah kontaminasi
e)      Menggunakan alat yang tidak bersifat korosif untuk memindahkan
bahan kimia padat
f)       Untuk bahan kimia cair, pindahkan secara hati-hati agar tidak tumpah
  • Jika terkena bahan kimia :
a)      Bersikap tenang dan jangan p anik
b)      Meminta bantuan teman yang ada di dekat Anda
c)      Membersihkan bagian yang mengalami kontak langsung
(dicuci dengan air bersih)
d)     Jangan menggaruk kulit yang terkena bahan kimia
e)      Menuju ke tempat yang cukup oksigen
f)       Menghubungi paramedis secepatnya
  • Masalah penanganan limbah bahan kimia :
a)      Limbah berupa zat organik harus dibuang terpisah agar dapat didaur ulang
b)      Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang tetapi
harus diencerkan dulu dengan menggunakan air secukupnya
c)      Limbah cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun
harus dikumpulkan dalam botol penampung dan diberi label
d)     Limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyumbat saluran air
e)      Sabun, deterjen dan cairan yang tidak berbahaya dalam air
dapat langsung dibuang melalui saluran air kotor dan dibilas dengan air secukupnya
f)       Gunakan zat / bahan  kimia secukupnya

PETUNJUK KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM

Dengan kehati-hatian kita dan pengetahuan serta teknik kerja yang benar, laboratorium bukanlah tempat yang berbahaya. Berikut ini adalah petunjuk keselamatan kerja yang biasa kita lakukan, yaitu :
  1. Pakailah kaca mata pelindung setiap bekerja di laboratorium.
  2. Pakailah sepatu tertutup bukan sepatu sandal.
  3. Tidak boleh makan dan minum selama bekerja di laboratorium.
  4. Kenali letak dan penggunaan alat PPPK dan alat pemadam kebakaran.
  5. Anggaplah semua bahan kimia berbahaya, jangan mencicipi tanpa izin dari Guru Pembimbing.
  6. Jika bahan kimia mengenai mata, cuci dengan air bersih yang banyak dan laporkan kejadiannya pada asisten.
  7. Jangan langsung membaui uap atau gas, tepiskan sedikit demi sedikit sampel gas ke hidung anda.
  8.  Setiap reaksi yang melibatkan bahan kimia yang berbahaya atau yang berbau tidak sedap dilakukan di lemari asam.
  9. Jangan arahkan tabung reaksi yang sedang dipanaskan ke muka anda atau ke arah teman, karena isi tabung dapat menyembur.
  10. Bila menyisipkan pipa kaca atau termometer ke dalam gabus, lumasi batang dan lubang gabus dengan gliserol atau air. Lindungi tangan Anda dengan lap dan putar masuk alat kaca ke dalam gabus. Agar tidak pecah, kedudukan tangan tidak boleh berjauhan.
  11. Pelarut seperti alkohol, aseton dan khususnya eter sangat mudah terbakar, jangan meletakkan bahan-bahan ini di dekat nyala api.
  12. Jangan kerjakan percobaan yang tidak dijadwalkan.
  13. Perhatikan setiap peringatan khusus yang terdapat pada setiap percoban.
  14. Jika ada alat yang pecah, segera kumpulkan pecahannya dan beri tahu asisten.
  15. Laporkan setiap kecelakaan sekecil apapun pada asisten. Untuk luka ringan balutlah dengan plester, bila kulit anda tersentuh benda panas, siramlah dengan air dingin untuk mengatasi rasa nyeri, jangan olesi dengan minyak. Untuk kecelakan yang lebih berat hubungi paramedik.

PENGENALAN ALAT-ALAT LABORATORIUM KIMIA

Berikut ini adalah alat-alat yang sering digunakan dalam praktikum di laboratorium berserta kegunaanya, yaitu :
  1. Alu dan Lumpang, alat ini biasa digunakan untuk menggerus atau menghaluskan sampel padat.
  2. Batang Pengaduk, alat ini biasa digunakan untuk mengaduk zat yang dicampurkan/membantu mempercepat proses pelarutan agar campuran homogen.
  3. Botol Semprot, alat ini biasa digunakan untuk mengeluarkan larutan dalam jumlah yang kecil tanpa takaran.
  4. Buret, alat ini biasa digunakan untuk meletakkan zat pentiter pada proses titrasi, skala dari alat ini lebih akurat dibandingkan dengan gelas ukur.
  5. Cawan Penguap, alat ini biasa digunakan untuk meletakkan zat yang akan dipanaskan atau diuapkan, tanpa meminimalkan kontak dengan udara luar.
  6. Cawan Krus, alat ini biasa digunakan untuk meletakkan zat yang akan dipanaskan dengan meminimalkan kontak terhadap udara luar.
  7. Corong, alat ini biasa digunakan untuk meletakkan kertas saring pada proses filtrasi, juga dapat digunakan untuk mempermudah memindahkan larutan pada saat dituang dari satu wadah ke wadah yang lain.
  8. Erlenmeyer, alat ini biasa digunakan untuk tempat menampung tetesan zat pentiter atau tempat mereaksikan zat yang dititrasi dengan zat penitrasi pada proses titrasi.
  9. Gegep, alat ini biasa digunakan untuk mengangkat/memindahkan  benda-benda dalam keadaan panas.
  10. Gelas Piala/Gelas Kimia, alat ini biasa digunakan untuk tempat meletakkan zat-zat atau larutan yang tidak mudah menguap untuk sementara waktu.
  11. Gelas Ukur, alat ini biasa digunakan untuk mengukur volume suatu larutan.
  12. Kaca Arloji, alat ini biasa digunakan untuk tempat meletakkan atau mereaksikan bahan padat dalam jumlah kecil, umumnya untuk pengamatan warna. Bisa juga digunakan sebagai penutup cawan penguap.
  13. Kawat Kasa, alat ini biasa digunakan untuk meletakkan alat pada proses pemanasan, diletakkan diatas kaki tiga agar panas tersebar rata dan menghindari kontak langsung antara nyala api dengan alat yang dipanaskan.
  14. Kawat Nikrom, alat ini biasa digunakan untuk melakukan uji nyala unsur (untuk mengetahui warna nyala dari suatu unsur).
  15. Klem, alat ini biasa digunakan untuk menyangga atau menjepit peralatan yang digunakan agar tidak jatuh atau bergeser.
  16. Labu Ukur/Labu Takar, alat ini biasa digunakan untuk membuat, menghomogenkan dan menyimpan larutan dengan konsentrasi dan volume tertentu.
  17. Pembakar Bunsen/lampu Spritus, alat ini biasa digunakan untuk memanaskan larutan, mendidihkan larutan dalam jumlah kecil, dapat juga digunakan untuk pemanasan yang menggunakan nyala api langsung.
  18. Penjepit Tabung Reaksi, alat ini biasa digunakan untuk menjepit atau memegang tabung reaksi pada saat melakukan percobaan terutama pada saat memanaskan.
  19. Pipet Tetes, alat ini biasa digunakan untuk memindahkan larutan dengan volume kecil tanpa takaran yang tepat.
  20. Pipet Volumetrik/ Pipet Gondok, alat ini biasa digunakan untuk memindahkan larutan dengan volume tertentu, alat ini lebih akurat dibandingkan dengan gelas ukur dan lebih aman jika menggunakan karet penghisap.
  21. Rak Tabung Reaksi, alat ini biasa digunakan untuk tempat meletakkan tabung reaksi, untuk memudahkan kerja dan pengamatan.
  22. Segitiga Porselin, alat ini biasa digunakan untuk menyangga alat yang akan dipanaskan pada pemanasan yang menggunakan Lampu Spritus/Bunsen, diletakkan diatas kawat kasa dan kaki tiga.
  23. Sikat Tabung, alat ini biasa digunakan untuk membersihkan bagian dalam tabung reaksi atau alat-alat kaca lainnya.
  24. Spatula/Sudip, alat ini biasa digunakan untuk memindahkan zat padat dengan volume kecil, tanpa takaran yang tepat.
  25. Statif, alat ini biasa digunakan sebagai tiang penyangga peralatan, yang dilengkapi dengan klem atau gelang besi.
  26. Tabung Reaksi, alat ini biasa digunakan untuk tempat melakukan reaksi kimia dalam jumlah yang kecil agar mudah diamati.
  27. Termometer, alat ini biasa digunakan untuk mengukur temperatur suatu zat.